Equality…,sebenernya apa yang dimaksud dengan kata itu ? Kalau dalam bahasa Indonesia yang benar “Equality” berarti persamaan derajat (tanpa melihat perbedaan apapun), lalu dalam pengertian kata itu sendiri apa yang sudah dihasilkan? Menurut saya yang sudah dihasilkan tidaklah begitu berarti, mungkin sebelumnya ada beberapa orang yang sudah memperjuangkan mengenai persamaan derajat, dan di beberapa bagian sudah berhasil namun apakah hasil tersebut sudah dirasakan setiap orang? Tidak.., persamaan derajat hanya diberikan pada orang-orang yang mempunyai kepentingan dan kekuasaan tersendiri tapi tidak pada orang-orang yang benar-benar membutuhkan, apakah mengartikan persamaan derajat haruskah ada kepentingan dan kekuasaan tersendiri sehingga baru bisa dapat merasakan itu semua.
Beberapa orang berpendapat bahwa saat ini kita sudah melakasanakan persamaaan itu dan menjalankan semuanya dengan baik, lalu bagaimana dengan yang dirasakan kita kalangan anak-anak muda? Mungkin disini saya belum menerangkan apa hubungannya, maka akan saya jelaskan, apakah kita sudah melihat apa yang terjadi di dalam masyarakat muda kita? Makin banyak penyalahgunaan tindakan dalam masyarakat yang dikarenakan hal ini.
Mungkin salah satu contoh yang paling mudah adalah apabila para muda/i berhubungan dengan seseorang yang entah berbeda agama, gender, ras, etnis ataupun hal-hal lain. Orang akan memberi anggapan atau berpendapat tidak menyenangkan mengenai hal ini, contoh mudah lainnya adalah apabila ada perbincangan mengenai agama pasti pada akhirnya berbuntut keributan, lalu apakah itu semua perlu dijadikan bahan untuk memicu sesuatu yang hal yang tidak penting? Mungkin kita justru akan mendapatkan kehilangan yang sangat berarti apabila tetap bersikukuh dengan apa yang kita ributkan, entah itu kehilangan teman ataupun keluarga kita sendiri. Dimanapun dan apapun keyakinan, ras, etnis yang kita anut, miliki, percayai, ataupun bagaimana bentuk penyembahaan dan puji-pujian terhadap sesuatu yang mempunyai kekuasaan yang lebih besar tidak tahu apakah itu kepada Tuhan, Alam semesta, atau bahkan Dewa-Dewi.
Bukankah agama dan keyakinan apapun yang ada didunia intinya mengajarkan untuk mengasihi dan mencintai sesama manusia, dan semua orang adalah sama dimata Yang Kuasa, lalu apa yang kita perbuat? Kita justru menganggap apa yang kita percayai atau kita anut itu adalah sesuatu yang paling benar dan tepat, sebenarnya berhakkah kita untuk mengkotak-kotakan seseorang kedalam kriteria khusus? Namun pernahkah kita berpikir bahwa tidak ada yang sempurna didalam dunia ini. Saya disini bukan bermaksud untuk mengajarkan/memberitahukan bahwa agama ataupun kepercayaan yang ada itu salah, karena dengan mempunyai kepercayaan atau keyakinan itu sendiri kita memiliki tujuan bagaimana untuk bertindak dengan baik sesuai dengan norma yang ada didalam masyarakat, tapi yang salah adalah bagaimana kita mengadaptasikannya ke kehidupan bersosialisasi di masyarakat yang modern pada saat ini. Apakah rasa cinta dan kasih dapat dikalahkan oleh semua ini? Kenapa juga banyak orang berpendapat bahwa cinta dan kasih dapat mengalahkan semua? Jadi manakah yang benar sebenarnya? Lalu apakah alasan kita yang sebenarnya bersosialisasi dengan orang-orang yang “tidak sama” dengan kita, apakah kita hanya untuk mendapatkan keuntungaannya saja tapi tidak kejelekannya?
Seandainya kita benar-benar dapat melihat apa yang dialami anak-anak pada saat ini maka kita akan lebih mengerti apa yang mereka alami dan lalui, kadang masalah yang mereka hadapi tingkatnya melebihi usai mereka pada umumnya, banyak dari mereka yang menghadapi atau katakan saja mereka berhubungan dengan seseorang yang “berbeda” tapi dari pihak keluarga ataupun masyarakat memandang itu suatu hal yang tidak bisa dilakukan, namun karena rasa percaya mereka masih tetap berhubungan walaupun lingkungan menentang mereka, tapi apakah rasa cinta dan kasih didalam “perbedaan” itu merupakan sesuatu hal yang salah? Sebagai bentuk gambaran lain seandainya kita tetap menekankan bahwa “perbedaan” merupakan sesuatu yang penting maka kita secara tidak langsung membawa mereka untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma-norma yang ada dan akhirnya malah membawa mereka kedalam kehancuran kita sendiri karena bukannya kita juga berpikir bahwa mereka adalah penerus kesuksesan kita. Apakah salah seandainya kita sekali-sekali mendengarkan apa yang mereka ingin ungkapkan, kadang kala seorang ahli dalam bidang tertentu pun dapat melakukan kesalahan.
Sampai kapan kita akan berlaku seperti ini? Bukannya kita juga mempunyai cita-cita dan mimpi untuk membuat tempat yang kita tinggali jauh lebih baik dan juga bukankah perbedaan itu indah, justru didalam berbagai macam perbedaan kita akan menemui warna-warni yang lebih indah dari kita bayangkan. Karena dari pertama pun kita lahir sudah memiliki banyak berbagai macam perbedaan.
Yang sekarang kita dapat lakukan adalah bagaiman kita menerima perbedaan itu dan tidak memperlakukan seperti sesuatu yang lebih rendah dari yang ada didalam diri kita, mungkin ini semua tidaklah semudah seperti yang kita bayangkan namun apabila kita benar-benar berniat untuk mencoba maka tempat yang kita tinggali akan menjadi sesuatu yang lebih menarik untuk dijalani. Dan kalaupun ada perbedaan apakah tidak lebih baik kita pertimbangkan dan dengan tidak menilai yang berbeda itu selalu salah atau buruk apalagi pada saat jaman seperti ini dimana komunikasi dan pengetahuan memegang peranan penting dalam kehidupan, dan kalau seandainya kita orang yang yang berpendidikan dan berpikiran luas maka kita akan lebih terbuka pada perbedaan dan menghargai pendapat orang lain bukan malah memberikan pendapat yang tidak menyenangkan yang dapat menghasilkan rasa kesal, benci, ataupun iri.
Apakah mereka takut akan perbedaan yang ada didalam diri kita masing-masing? Apakah sebenarnya yang ditakutkan? Bukankah kita sama-sama darah dan daging juga?
Ini mungkin hanya sebagian kecil masalah yang terjadi dan ada didalam kehidupan masyarakat tapi apakah kita akan berpaling tanpa mempedulikan ini begitu saja? Saya rasa ini juga sudah seharusnya menjadi bahan pemikiran kita, Karena dari persamaan ini akan menghasilkan atau memberikan efek yang positif dalam hal-hal lain diluar lainnya, bisa dibilang ini semua merupakan salah satu proses untuk pencapaian kehidupan yang lebih baik.
Kita tidak menyadari bahwa didalam perbedaan tersebut kita kadang kala kita menemukan bagian yang hilang dalam kehidupan kita sendiri, dan seandainya saja kita tidak melihat adanya suatu perbedaan, maka didalam perbedaan itu juga kita berusaha dengan kuat bagaimana saling melengkapi satu dengan yang lainnya. Akan tetapi kalau seandainya kita masih tetap berpikiran bahwa benang merah pembatas tersebut masih ada maka sudah tentu sampai kapanpun kita tidak akan pernah dapat menemukan bagian yang hilang tersebut. Dan kita tetap menjalani semuanya dalam keadaan tidak lengkap atau tidak sempurna, mungkin beberapa orang menganggap ini suatu yang biasa saja tapi mereka tidak akan menyadari sampai pada saat terakhir mereka berada didunia ini. Haruskah kita menyadari ini semua setelah akan berakhir?
Akan lebih baik kalau seandainya kita menerima perbedaan itu semua sebagai bagian diri kita sendiri dan juga berlapang dada tanpa harus ada pendapat yang tidak menyenangkan.